Nike Vision 2013: Kacamata Urban Life Style

Nike lebih dikenal sebagai merek ternama untuk produk olahraga seperti sepatu, pakaian, alat-alat aksesoris olahraga terkenal di dunia. Di tahun 2013, Nike Vision, divisi kacamata, meluncurkan koleksi terbaru NWS Collection. Koleksi ini memiliki elemen desain vintage dengan gaya urban life style yang berjiwa muda dengan kemasan modern dan tampilan warna-warna cerah. Setiap sunglasses dalam koleksi ini juga dilengkapi dengan teknologi muktahir yang selalu hadir dalam setiap produk Nike Vision.

Salah satu koleksi terbaru adalah MDL 205 EV0718. Sunglasses dengan navigator shape yang klasik ini memiliki gaya retro yang digabungkan dengan sporty wrap design. Pada bagian temple, 5-barrel pin hinge construction memberikan konstruksi yang kokoh. Paduan warna-warna kontras yang trendi hadir mewarnai sunglasses yang terbuat dari material asetat ini, di antaranya Black/White, Frosted white/cactus, dan Frosted white/Total Crimson yang dilengkapi dengan Vermillion Flash lens.

Koleksi Nike Vision NSW Collection ini tersedia secara eksklusif di Optik Melawai, retail optik terbesar dengan lebih dari 240 cabang di seluruh Indonesia.
Baca Kelanjutannya

Review dan Download Film Django Unchained

Judul Film: Django Unchained
Sutradara: Quentin Tarantino
Pemain: Jamie Foxx, Christoph Waltz, Leonardo DiCaprio
Produksi: The Weinstein Company & Columbia Pictures, 2012

Arena gulat Mandingo di kediaman Calvin Candie. Ini laga khusus budak kulit hitam. Hangat karena digelar di depan perapian. Sadis lantaran mensyaratkan kematian. Setelah mendapati jagoannya kalah, Amerigo Vassepi menghampiri bar, memesan minuman, dan bertanya nama kepada seorang pria kulit hitam. "Django," jawab si kulit hitam. "D-J-A-N-G-O," sambungnya karena diminta mengeja. "D-nya tidak dilafalkan," tambahnya lagi. "Saya tahu," kata Vassepi.

Obrolan singkat di depan meja bar itu adalah adegan dalam film Django Unchained garapan sutradara Quentin Tarantino. Sebentar tapi lumayan bernilai dalam mendeskripsikan perbedaan karakter Django kini (diperankan Jammie Foxx) dengan Django versi terdahulu. Tokoh Vassepi dimunculkan sebagai cameo Franco Nero, aktor yang identik dengan karakter Django dalam film Django (1966) yang disutradarai Sergio Corbucci.

Tarantino menyebut Corbucci sebagai inspirasinya dalam membuat Django Unchained. Tapi sutradara yang banyak menaruh perhatian pada petilan sejarah gelap peradaban manusia ini memilih cara berbeda dalam menghadirkan kembali Django. Ia mengetengahkan sosok Django kulit hitam sebagai subjek dalam telaah kritisnya tentang sejarah perbudakan di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-18.

Django Unchained bercerita tentang pria kulit hitam bernama Django yang dibebaskan dari perbudakan oleh seorang dokter gigi sekaligus pemburu hadiah bernama King Schultz (Christoph Waltz). Schultz yang berdarah Jerman dan karismatis itu lantas merekrut Django sebagai mitra dalam bisnis berburu penjahat (si pria Jerman lebih memilih frasa "mati" untuk tawaran "hidup" atau "mati" sebagai kondisi akhir para bandit yang diburunya).

Tujuan hidup Django sebagai freeman adalah membebaskan istrinya, Bromhilda, dari status budak di sebuah perkebunan milik Calvin Candie (Leonardo DiCaprio). Dengan bantuan Schultz, Django memulai upaya yang tidak mudah, kompleks, dan penuh cipratan darah untuk membeli kebebasan sang istri.

Tarantino mengemas Django Unchained dalam plot linier yang diwarnai beberapa kilas balik untuk memberi efek puitis. Dengan merangkap peran sebagai penulis skenario, ia mengembangkan kisah yang sesungguhnya sederhana ini ke dalam durasi sekitar dua jam 45 menit. Unsur humor yang disebar merata menyelamatkan aliran film ini dari potensi kebosanan penonton. Dan gaya khas Tarantino dalam mengartikulasikan unsur kekerasan secara visual dan verbal menjadi faktor yang menarik diamati perkembangannya (penting diperhatikan; film ini adalah tontonan untuk orang dewasa).

Lewat Django, ada semacam postulat yang dikemukakan Tarantino untuk menjawab kritik banyak pihak soal narasi kekerasan dalam film anti-perbudakannya ini. Bahwa pencapaian tertinggi dari ekspresi visual tentang kekerasan adalah komedi. Seperti tawa penonton yang ricik saat Django menembak perempuan kulit putih (hingga mencelat sampai jauh) dengan senjata kaliber besar. Atau tawa besar penonton saat cameo Tarantino memerankan seorang pegawai perusahaan tambang yang tubuhnya hancur lebur oleh dinamit.

Dan, sebagaimana dalam Inglorius Basterds (2009), selain Tarantino, yang punya peran cukup besar membuat film ini asyik diikuti sejak awal hingga menjelang akhir adalah Christoph Waltz. Ia berhasil memerankan karakter Schultz mewakili sudut pandang humanis sang sutradara. Sudut pandang yang belakangan banyak dikritik karena menempatkan orang kulit putih sebagai pembeli kebebasan orang kulit hitam dari perbudakan.
Baca Kelanjutannya

Vegetarian Terhindar dari Penyakit Jantung

Anda ingin sehat dan terhindar dari risiko penyakit jantung? Salah satu caranya, jadilah seorang vegetarian. Berdasarkan riset yang melibatkan 44.500 orang di Inggris dan Skotlandia, orang yang suka menyantap sayur-sayruan dan buah-buahan berisiko kecil terkena penyakit jantung. ''Saya tidak menganjurkan semua orang melakukan diet tinggi sayuran dan buah-buahan. Tapi orang yang lebih banyak mengonsumsi sayuran daripada daging atau ikan lebih sehat,'' ujar Dokter Francesca Crowe, salah satu peneliti dari Universitas Oxford, Inggris.

Dalam studi yang dimuat The American Journal of Clinical Nutrition, terbitan Januari silam, Crowe dan koleganya menganalisis data 15.000 vegetarian serta 29.400 pengonsumsi daging sapi dan ikan. Kemudian ia mencatat angka kematian akibat jantung dalam kurun waktu 11 tahun.

Walhasil, ditemukan 169 orang yang meninggal akibat penyakit jantung dan 1.066 orang membutuhkan perawatan di rumah sakit akibat penyakit yang sama. Di lain pihak, tak satu pun vegetarian yang meninggal atau dirawat akibat penyakit jantung selama itu. ''Vegetarian kurang mengonsumsi asam lemak jenuh yang membuatnya jauh dari risiko penyakit jantung,'' katanya, seperti dikutip situs bbc.co.uk, Kamis pekan lalu.
Baca Kelanjutannya

Cahaya Lampu Bisa Sebabkan Migrain

Migrain selama ini dikaitkan dengan cuaca panas. Namun studi terbaru menunjukkan, lampu terang ikut memicu migrain. ''Kami terkejut sekaligus gembira melihat studi terbaru ini,'' ujar Dr. Vincent Martin, peneliti di University of Cincinnati College of Medicine, Ohio, Amerika Serikat.

Seperti dikutip situs reuters.com, Martin dan koleganya memantau lima sensor cahaya lampu dan meletakkannya dekat dengan 90 pasien migrain. Setelah melakukan pengamatan selama tiga bulan, ia mencatat, gejala migrain muncul setiap mereka terpapar sinar lampu. Lalu ia membandingkannya dengan kasus mereka yang berada di ruangan atau tempat yang panas dan lembap. Hasilnya, cahaya lampu bisa memicu migrain 25% lebih banyak ketimbang yang berada di ruangan yang panas.

Martin menengarai, lampu memancarkan gelombang elektromagnetik yang dapat memberi efek kepada pasien migrain. Gejala sakit kepala pun muncul. Dengan begitu, kilat pun bisa memicu migrain.
Baca Kelanjutannya

Review dan Download Film Rectoverso

Judul Film: Rectoverso
Sutradara: Marcella Zalianty, Happy Salma, Rachel Maryam, Olga Lidya, Cathy Sharon
Pemain: Lukman Sardi, Prisia Nasution, Asmirandah, Dwi Sasono, Acha Septriasa, Indra Birowo, Yama Carlos, Sophia Latjuba, Amanda Soekarsah, Hammish.
Produksi: Keana Pictures, 2013

Lima cewek beken, muda dan penuh energi, bergabung menggarap film omnibus. Hasilnya, lahirlah Rectoverso, yang terdiri dari lima film pendek cukup memikat. Film yang disutradarai Marcella Zalianty, Happy Salma, Olga Lidya, Cathy Sharon, dan Rachel Maryam ini menyajikan gaya bertutur yang lebih segar, dengan kepingan-kepingan cerita yang beriringan hingga ke akhir. Seperti pembagian babak: awal, tengah dan akhir, kelima film pendek di dalamnya silih berganti hadir mengundang penasaran penonton.

Dimulai dengan Malaikat Juga Tahu. Kisah tentang Abang (Lukman Sardi), seorang penderita autis yang jatuh cinta kepada Leia (Prisia Nasution). Kisah cinta yang tak terucap oleh Abang, tidak dipaparkan kepada penonton hingga akhir cerita. Namun hanya kepingan awal. Cerita kemudian berganti ''ruang'' ke dapur kue milik Senja (Asmirandah). Sore itu adalah kali pertama kue cupcake buatannya gosong. Senja kemudian berfirasat bahwa kegagalannya membuat kue adalah pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Panca (Dwi Sasono).

Dari kisah Senja yang berjudul Firasat, kemudian film kembali membuka ruang baru. Kali ini ke sebuah kafe tempat sepasang sahabat, Amanda (Acha Septriasa) dan Reggie (Indra Birowo), bertemu untuk mendengar curhat Amanda tentang mantan kekasihnya. Sampai di situ saja film berjudul Curhat Buat Sahabat ini.

Kemudian masuk ke ruang berikutnya, kisah cinta satu malam milik Taja (Yama Carlos) dan Saras (Sophia Latjuba) yang berlanjut tanpa direncanakan, yang berjudul Cicak Di Dinding. Terakhir adalah penggalan kisah cinta Al (Amanda Soekarsah), seorang backpacker yang setia dan menunggu untuk menatap mata Raga (Hammish) dalam kisah berjudul Hanya Isyarat.

Lima keping cerita cinta yang ringan, namun penuh ironi tersebut jauh dari kesan monoton karena didukung pengambilan gambar dan gaya penyuntingan yang tak membosankan. Menyaksikan kepingan Rectoverso seperti nafas yang tertahan, dan sejadi-jadinya mengembus panjang tak keruan saat mencapai klimaks yang dibungkus dalam cerita Malaikat Juga Tahu yang diringi lagu berjudul sama yang dinyanyikan Glenn Fredly pada ujung film.

Rectoverso: Cinta yang Tak Terucap merupakan film yang diangkat dari kumpulan cerita pendek karya Dewi Lestari dalam buku dan album musik berjudul Rectoverso (2008). ''Awalnya aku mau buat film omnibus, dan meminta Dewi untuk menulis ceritanya. Tapi saat itu dia sedang sibuk dengan pembuatan film Perahu Kertas, dan dia menyuruh aku baca Rectoverso. Setelah baca aku langsung terinspirasi dan tertarik untuk buat filmnya,'' ujar Marcella Zalianty, produser merangkap sutradara. Rectoverso sendiri berarti gambar yang seolah-olah terpisah padahal satu kesatuan

Dari 11 cerita pendek karya Dewi Lestari itu, hanya lima di antaranya yang dipilih untuk difilmkan dengan judul sama. Malaikat Juga Tahu disutradarai Marcella Zalianty, Firasat digarap Rachel Maryam, dan Curhat Buat Sahabat dipercayakan pada Olga Lidya. Sedangkan Cicak Di Dinding dan Hanya Isyarat masing-masing disutradarai Cathy Sharon dan Happy Salma. ''Menyutradarai film ini pengalaman baru bagi kami semua,'' kata Marcella, usai acara media screening Rectoverso di Lippomall Kemang, Jakarta Selatan, Jumat pekan lalu.

Tak disangka, kelima sutradara baru itu mampu membawa lima kisah Rectoverso milik Dewi Lestari ke dalam film jauh lebih bagus daripada Perahu Kertas yang banyak dielu-elukan. Meskipun di beberapa bagian terkadang tersaji drama ala sinetron atau akting yang kurang mumpuni, kekurangan itu dapat dipoles oleh pemilihan struktur dan penyuntingan film omnibus yang menyegarkan, sumbangsih editor Cesa David Lukmansyah.

Baca Kelanjutannya

Wawancara Ahok Wagub DKI: Jakarta Nggak Boleh Serakah

Momentum 100 hari Jokowi-Ahok ditandai dengan banjir bandang yang melanda DKI Jakarta. Pemerintah Daerah DKI Jakarta mengakui minim pengalaman menangani banjir besar.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, sempat dikritik karena tidak muncul di tengah kebingungan masyarakatnya yang disergap banjir bandang. Namun ia menyangkal kalau dituding tidak bekerja. ''Siapa bilang saya tidak bekerja,'' kata lelaki yang akrab dipanggil Ahok ini. Meski rumahnya di kawasan Pluit juga terendam banjir, Ahok mengatakan tak henti memantau koordinasi penanganan banjir Jakarta melalui telepon selularnya.

Salah satunya, menyangkut upaya mengurangi dampak jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat di kawasan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat. Ia langsung memerintahkan segenap aparatnya terjun ke lapangan, membawa batu dan pasir guna membendung luapan air di bagian tanggul yang jebol itu. ''Itu pasir dan batu, saya yang disuruh cari oleh Pak Gubernur (Jokowi),'' ungkapnya.

Di tengah kesibukannya di balai kota, Ahok menerima wartawan Gatra Sandika Prihatnala dan Mukhlison S. Widodo untuk berbincang seputar masalah banjir Jakarta dan penanganannya ke depan. Dalam perbincangan dengan suguhan pisang rebus pada Selasa siang lalu itu, Ahok bercerita panjang lebar. Berikut petikannya:

Pada momentum 100 hari kepemimpinan Anda dan Jokowi, ada isu perpecahan. Anda jarang terlihat bersama dengan Jokowi? Apalagi saat banjir, Anda sempat dikritik tak turun ke lapangan. Benarkah demikian?
Nggak ada itu. Saya dan Pak Jokowi, kalau ketemu itu kan nggak  perlu bilang-bilang (ke orang). Kalau lagi sama Pak Gubernur, kan nggak harus nge-tweet "hei, aku lagi sama Pak Gubernur nih". Menurut saya, itu genit banget. Ngapain.

Siapa bilang saya tidak bekerja. Beliau melempar ke saya untuk urus adminstrasi, dapur.

Bagaimana hasil audiensi di Marunda dengan pengungsi waduk Pluit?
Pemilik tanah rata-rata menolak. Mereka sempat melarang orang yang mau mendaftar. Saya sudah lapor ke gubernur. Setelah banjir selesai, tak ada toleransi. Wilayah waduk yang jadi rumah tak boleh ada lagi. Tapi konsep Pak Gubernur, tak boleh orang diusir dengan sewang-wenang, semena-mena. Makanya, di rusun yang sudah jadi untuk korban banjir kita kasih full-furnished.

Tanggapan warga?
Kalau sudah 50+1 persen setuju, ya sudah. Manusia memang beda-beda. Setelah yang pindah dapat hidup nyaman, pasti iri-irian. Ada yang nggak mau, karena nggak mau tercatat. Nah, saya minta yang nggak mau ini jangan menghasut yang lain. Ada isu, harus setor Rp 5 juta. Saya bilang, itu nggak ada. Saya anterin, saya urusin.

Siapa yang menghasut?
Ada yang takut, kalau nanti penghuni yang selama ini sewa Rp 200.000-Rp 300.000 di rumah petak, pangsa pasarnya hilang. Karena ada rumah susun yang lebih nyaman. Di tempat gusuran, nanti dia ini nggak punya tameng manusia. Kalo dibongkar, belum pindah, nanti penduduk kan histeris. Bagi saya dan gubernur, kalau kita tidak siapkan tempat lebih baik, kami kejam. Tapi kalau mereka menolak, mereka lebih kejam daripada orang lain. Sudah susah, nyusahin orang susah.

Ada solusi lain selain rusunawa di Marunda?
Kita bangunkan lokasi yang dekat mereka di Muara Angke. Sudah berdiri 400 unit. Hanya belum ada listrik, air. Tahun ini sudah dianggarkan Rp 70 milyar lebih untuk beli tanah di Muara Baru. Akan ada beberapa tower.

Apa yang disiapkan agar pengungsi mau pindah?
Semua kita siapkan. Sampai seprei, sabun, sampo kita sediakan. Korban banjir masuk bawa badan tok. PAUD, TK, SD, SMP, SMA, puskesmas juga ada. Masjid mau kita bangunkan.

Soal warga Pluit yang kaya, kebanjiran, disuruh mengungsi tapi minta fasilitas macam-macam?
Kita sudah kasih tahu mereka. Kapal Dishub sudah kita tarik. Nggak bisa kita anter mereka cuma untuk belanja barang. Kita biarkan taksi air yang cari uang beroperasi. Kalau mau belanja, ya bayar. Tapi kalau sudah teriak minta tolong, ya, kita evakuasi. Kemarin terlalu banyak orang yang tidak mau pergi. Minta dianterin makanan. Ini masalah. Akhirnya kita umumkan, harus keluar. Kalau nggak, ya nggak kita anter makanan.

Soal hutan kota yang berubah fungsi jadi mal?
Kita beli tanah banyak. Evaluasi, yang sudah dihijaukan tidak boleh IMB sementara. Dulu ternyata boleh. Kita sekarang nggak mau toleransi.

Apa yang akan dilakukan ke depan untuk menangani banjir?
Saya harap, kita sudah bisa kayak orang kawinan. Bisa dua minggu sebelum acara sudah siapin tenda, dapur umum, dan sebagainya. Itu yang akan kita lakukan. Kalau nanti banjir, sudah nggak ada lagi dapur umum dikirim dari dinas sosial ke lokasi. Di lokasi pengungsian sudah ada ''pesta kawinan''. Betul-betul on the spot, lihat situasi.

Banyak proposal penanganan banjir masuk ke kantor Pemda DKI. Anda pilih yang mana?

Konsep besar Pak Gubernur, ya, membangun terowongan multifungsi itu. Orang selama ini berpikir membuang air ke waduk Pluit. Bukan. Waduk Pluit itu hanya pengolahan limbahnya. Kita lagi kaji, dan ini serius kajiannya.

Bagaimana kalau menghabiskan dana banyak, Rp 20 trilyun?
Jakarta banjir habiskan uang Rp 26 trilyun. Pemerintah tugasnya bukan nyari untung, tapi membuat warganya untung. Daripada tiap tahun rugi Rp 26 trilyun, lebih baik kita bangun Rp 20 trilyun.

Megapolitan konsepnya bagaimana?
Saya bilang, Jakarta nggak boleh serakah. Untuk rumah dengan nilai Rp 10 milyar ke atas, PBB dinaikkan 60%. Supaya nanti orang tidak mampu tinggal di rumah biasa. Yang penting lagi soal pabrik. Kalau punya tempat pemotongan ayam, sapi, dengan tanah mahal, kira-kira sesuai nggak lahan Anda dipakai untuk potong sapi? Pasti tidak sesuai.

Kalau tidak sesuai, tanah saya jual. Mulai cari tanah di Bekasi atau di mana. Jadi lama-lama, pekerjaan yang membutuhkan tenaga kasar, lebih murah, sistem banyak, industri akan ada di pinggiran. Kita harus berani, Jakarta nggak boleh serakah. Sekarang, bisnis karet gelang saja ada di Jakarta.

Selama 100 hari pemerintahan, apa hikmah yang dipetik?
Ini pengalaman yang baik. Kejutannya, banjir besar. Nggak pernah kepikiran. Terserah orang mau nilai kita kerja apa nggak. Soal menambah bis kita buktikan. Soal pakai surat keterangan tidak mampu (SKTM) juga dibuktikan.

Siapa yang harus disalahkan atas terjadinya banjir di Jakarta?
Ya, salahkan gubernur dan saya. Karena kami tidak bisa mengatasi. Suka atau tidak, ini beban yang harus kami tanggung. Kalau anak buah nggak bisa kerja, juga salah kami. Ke depan, kalau sampai terulang, ya lebih salah lagi. Nggak bisa salahkan siapa-siapa.

Selama ini, ternyata kita tidak punya peta lokasi rawan banjir, dan sebagainya. Kita nggak pernah terpikir, (tanggul) Latuharhari jebol, PLTU mati, genset rumah sakit overheat, sedangkan banyak pasien yang di ICU. Kita nggak punya pengalaman ngurusin yang kayak begini.
Baca Kelanjutannya

Akhir Tragis Sang Genius Pencipta RSS

Hampir tidak ada pengguna internet yang tak mengenal RSS. Teknologi ini biasanya tampil dengan ikon XML atau RSS di halaman web, membuat netter bisa berlangganan konten sebuah situs secara teratur. Bisa dibilang, seluruh situs media juga mengunakan fasilitas ini.

Sayang, kisah sukses RSS tidak semanis kisah penciptanya. Jumat pekan lalu, pencipta teknologi ini, yakni seorang pemuda bernama Aaron Swartz, gantung diri di apartemennya di Brooklyn, New York. Usianya baru 26 tahun.

Tidak ada yang tahu pasti mengapa Aaron bunuh diri. Dia tidak meninggalkan catatan apa pun. Yang ada cuma indikasi. Dua hari sebelumnya, si genius yang lagi terjerat pidana ini gagal mendapatkan kesepakatan dengan kantor jaksa Massachussets agar tidak dipenjara. Aaron harus tetap disidang, dengan ancaman penjara 50 tahun.

Apa yang dilakukan Aaron? Meng-hack, tentu. Hanya yang ia hack bukanlah jaringan instalasi militer, melainkan JSTOR (journal storage), sebuah perpustakaan digital yang memiliki sampai jutaan artikel ilmiah dari para ilmuwan.

Aksi hack itu dilakukan pada 2010. Pelanggan JSTOR kebetulan tidak cuma perorangan, melainkan juga perpustakaan kampus atau institusi. Untuk menyusup ke jaringan JSTOR, Aaron pun mengerjai jaringan perpustakaan kampus MIT lebih dulu yang tersambung ke JSTOR. Dari jaringan MIT itulah ia akhirnya bebas mengunduh jutaan artikel ilmiah di JSTOR secara gratis.

Hack ini bermotif politis. Dalam manifestonya berjudul "Guerrilla Open Acces", Aaron menulis tentang adanya pihak-pihak yang masih saja memonopoli informasi keilmuan dengan cara mendigitisasi, lalu "mengunci" berbagai karya itu.

Siswa MIT memang bisa gratis mengakses artikel JSTOR dari perpustakaan kampus mereka. Tapi Aaron, yang orang luar, harus bayar. Sekadar gambaran, sebuah artikel ilmiah di JSTOR diharga sekitar US$ 30. Aaron tidak menerima model penguncian macam itu. "Berusaha membaca artikel itu secara gratis kerap disebut 'mencuri', seakan-akan berbagi pengetahuan sama seperti merompak kapal," tulisnya.

Sayangnya, Carmen Ortiz, jaksa Negara Bagian Massachussets, tidak sepakat dengan logika itu. Ia tetap menuntut Aaron dengan pasal pencurian data berdasarkan Computer Fraud and Abuse Act (CFAA). "Mencuri tetaplah mencuri, baik dilakukan dengan perintah di layar command maupun dengan linggis," kata Carmen dalam pernyataan resminya.

Total, ada 10 pasal yang diancamkan kepada Aaron. Bila Aaron terbukti bersalah atas 10 tuduhan itu (mencakup pencurian data, merusak jaringan, dan lain-lain), akumulasi hukumannya bisa mencapai 50 tahun penjara dan denda sampai US$ 1 juta.

Tuntutan seberat itu memang sangat berlebihan. Lawrence Lessig, profesor hukum di Universitas Harvard, menulis di blog-nya bahwa jaksa melakukan over-prosecution. Ia tidak sepakat, misalnya, ketika jaksa menganggap artikel-artikel yang dibaca Aaron secara gratis dikategorikan sebagai pencurian terhadap "data bernilai jutaan dolar". "Siapa pun yang berpendapat bahwa mengunduh artikel ilmiah bisa dijadikan uang adalah orang idiot atau pembohong," tulisnya.

Walau Kejaksaan Massachussets tidak mau terbuka mengakui, kuat dugaan bahwa sikap keras mereka terhadap Aaron disebabkan mereka ingin menjadikannya sebagai contoh. Bila Aaron dapat dihukum berat, hacker lain akan berpikir ulang untuk melanggar CFAA. Tapi skenario itu batal. Aaron keburu gantung diri.

Ayah Aaron, Bob Swartz, tidak bisa menyembunyikan kesedihan sekaligus kemarahannya ketika mengomentari kasus itu. "Anakku dibunuh oleh pemerintah. Mereka menghancurkannya lewat sistem," katanya, seperti dilansir LA Times. Ironisnya, JSTOR belakangan membolehkan artikel mereka dibaca secara gratis, meski tidak semuanya.

Kematian Aaron ini akhirnya juga memicu seruan untuk mereformasi CFAA. Di Washington, beberapa anggota Kongres, yang dimotori Zoe Lofgren, mulai mengajukan RUU yang disebut "Aaron Law". RUU ini berusaha membedakan antara pencurian data dan pelanggaran ketentuan pemakaian fasilitas. Hal itulah yang tidak dibedakan di CFAA, hingga pasal-pasalnya sangat berpotensi menjadi pasal karet.

Menurut Lofgren, aksi Aaron seharusnya dikategorikan pelanggaran pemakaian fasilitas, bukan pencurian. "Kita ingin mencegah agar apa yang menimpa Aaron tidak menimpa pengguna internet lain," katanya.
Baca Kelanjutannya

Review dan Download Film Les Miserables

Judul: Les Miserables
Sutradara: Tom Hooper
Pemain: Hugh Jackman, Anne Hathaway, Russel Crowe
Produksi: Working Title Films, Cameron Mackintosh Ltd, 2012

Memfilmkan sebuah karya sastra besar bukan urusan gampang. Bebannya berbanding lurus dengan reputasi karya sastra yang difilmkan. Begitu pula ketika novel tersohor Les Miserables (1862), karya penulis roman Prancis terkenal, Victor Hugo, yang ceritanya puluhan tahun malang melintang di panggung-panggung drama musikal di berbagai belahan dunia, diangkat ke layar perak. Dan, beban reputasi itu dipikul dengan baik oleh sutradara Tom Hooper.

Film musikal Les Miserables garapan sutradara kelahiran London tahun 1972 ini tidak berbeda dengan versi drama musikalnya. Lagu demi lagu yang ada di drama dua babak itu pun mengisi film berdurasi dua setengah jam ini. Hanya ada satu lagu baru yang dinyanyikan di film ini, yaitu Suddenly yang dilantunkan Jean Valjean ketika membawa pergi Cosette muda dari pasangan Thernadier.

Sebagaimana judulnya, film musikal ini berkisah tentang tragedi; paparan kemalangan demi kemalangan yang dialami tokoh-tokohnya. Mulai Jean Valjean (Hugh Jackman), tokoh utama cerita yang 20 tahun dari usianya habis dimakan hukuman hanya gara-gara mencuri sepotong roti untuk keponakannya. Pun setelah itu, nyaris sepanjang sisa hidupnya, ia masih harus terus melarikan diri dari Javert (Russel Crowe), sipir dan inspektur polisi yang mengejarnya karena melanggar wajib lapor.

Sedangkan penderitaan Javert lahir dari pertikaian antara integritasnya sebagai penegak hukum dan urusan hati nurani sebagai manusia. Hingga ia harus memilih cara yang mengesankan untuk mengakhiri penderitaannya.

Kisah dua penderitaan itu lantas terjalin di atas penderitaan Fantine (Anne Hathaway). Ia seorang pekerja pabrik yang dipecat, lalu terpaksa menjual rambut, gigi, dan akhirnya menjadi pelacur demi membiayai anaknya, Cosette (diperankan Isablelle Allen dan Amanda Seyfried).

Keunggulan mutlak film ini dari versi panggungnya ada pada penyajian setting. Lantaran tidak dibatasi ruang panggung, visualisasi latar lokasi peristiwa jadi lebih dramatis dan mencekam. Misalnya pada adegan pembuka yang mengetengahkan sebuah kapal laut besar ditarik ratusan tahanan. Visualisasi yang disokong dengan efek komputer grafis dalam adegan itu terasa memukau.

Lazimnya film bergenre musikal, dialog dalam film ini dikemukakan lewat nyanyian. Para tokoh mendendangkan komunikasinya dengan tokoh lain, dirinya sendiri, juga kepada Tuhan. Praktek itu efektif mengurangi kesan cengeng atau picisan dalam kalimat-kalimat yang mengeksplorasi penderitaan. Pada banyak bagian, nyanyian-nyanyian itu malah melahirkan efek dramatis yang kuat dan menghanyutkan emosi penonton.

Karena itu, pujian layak diberikan kepada Tom Hooper, sutradara yang sebelum ini sukses menyabet Oscar untuk kategori sutradara terbaik lewat film The King's Speech (2010). Les Miserables merupakan film feature musikal pertama Hooper. Namun tanpa ragu ia mengarahkan aktor-aktrisnya untuk bernyanyi langsung saat pengambilan gambar.

Hasilnya, ekspresi para pemain Les Miserables terlihat sangat natural. Bibir yang bergetar, nadi yang muncul di leher, dan guratan urat di mata mewarnai wajah tokoh-tokoh dalam cerita. Tak mengherankan bila film ini meraih penghargaan sebagai film komedi atau musikal terbaik, pemeran utama pria terbaik, dan pemeran pembantu wanita terbaik di ajang Golden Globe 2013, Ahad lalu.

Tak hanya itu. Hooper juga sukses mengantarkan Les Miserables meraih depalan nominasi Academy Award ke-85, yang akan digelar Februari nanti, antara lain untuk kategori make-up dan penataan rambut, penulisan musik dan lagu orisinal, tata suara terbaik, serta film terbaik. Namun sutradara yang baru menggarap empat feature film ini tidak tercatat dalam deretan nomine sutradara terbaik peraih Piala Oscar 2013.

Menakar Gengsi Les Miserables
Les Miserables ditayangkan perdana di Bioskop Empire, Leicester Square, London, pada 5 Desember lalu. Sejak itu, film musikal ini mendapat tempat sebagai nomine dan jawara di sejumlah festival film bergengsi. Paling gres, film ini menyabet penghargaan terbaik di ajang Golden Globe 2013 untuk kategori film komedi atau musikal, pemeran utama pria, dan pemeran pembantu wanita.

Selain itu, Les Miserables meraih delapan nominasi di ajang Academy Award ke-85 2013. Untuk memperebutkan Piala Oscar dengan kategori film terbaik, Les Miserables akan bersaing ketat dengan Argo, yang mengantongi Golden Globe untuk kategori yang sama. Saingan lainnya di kategori ini adalah Life of Pi, Beast of the Southern Wild, Django Unchained, Lincoln, Amour, Silver Linings Playbook, dan Zero Dark Thirty.

Di kategori pemeran pria terbaik, Hugh Jackman akan berebut piala dengan Denzel Washington (Flight), Daniel Day Lewis (Lincoln), Joaquin Phoenix (The Master), dan Bradley Cooper (Silver Linings Playbook). Bentuk keseriusan Hugh dalam film ini adalah ketika ia menurunkan berat badannya sampai 15 kilogram serta diet air demi memperkuat penampilannya sebagai Jean Valjean saat dalam tahanan. Keseriusan akting Hugh Jackman ditambah kemampuannya menyanyi yang banyak dipuji.

Sedangkan untuk kategori pemeran pembantu wanita terbaik, Anne Hathaway akan berkompetisi dengan Amy Adams (The Master), Helen Hunt (The Sessions), Jacki Weaver (Silver Linings Playbook), dan Sally Field (Lincoln). Modal Hathaway untuk menggondol Oscar adalah penampilannya yang memikat ketika menyanyikan lagu I Dreamed a Dream.

Les Miserables juga masuk nominasi calon peraih Oscar 2013 untuk kategori desain kostum terbaik, make-up dan penataan rambut, penulisan musik dan lagu orisinal, desain produksi, dan tata suara.

Sayangnya, kiprah Tom Hooper tahun ini dinilai tidak secemerlang ketika ia sukses menjadi sutradara terbaik untuk film terbaik versi Oscar, The King's Speech (2010). Beberapa kandidat sutradara terbaik pada Academy Award 2013 adalah Michael Haneke (Amour), Benh Zeitlin (Beasts of the Southern Wild), Ang Lee (Life of Pi), Steven Spielberg (Lincoln), dan David O. Russel (Silver Linings Playbook).
Baca Kelanjutannya

Artikel Motivasi: Merugi dalam Waktu

Pesan moral sesungguhnya dari ritus pergantian tahun adalah kebergegasan dan kebernilaian waktu. Betapa cepat waktu berlalu dan betapa banyak kerugian dalam kelalaian memanfaatkannya. Selama 14 tahun reformasi, Indonesia telah kehilangan begitu banyak momentum. Pada awal 1990-an, ketika Cina masih merangkak di landasan, Indonesia telah memasuki fase lepas landas. Kemajuan yang kita capai waktu itu menjadikan negara ini sebagai salah satu Asian Tigers.

Dalam kurun waktu yang sama, kemajuan Cina meroket bagai kilat. Inggris memerlukan waktu 100 tahun sejak Revolusi Industri untuk dapat melipatgandakan kemakmurannya; Amerika Serikat memerlukan waktu 50 tahun untuk meraih hal yang sama. Cina dapat mencapainya hanya dalam tempo belasan tahun. Kebesaran jumlah penduduk kerap dijadikan alasan bagi kesulitan dan kelambanan kemajuan. Tetapi, dengan 1,3 milyar penduduk, Cina bisa meraih kemajuan dalam kecepatan mengagumkan.

Gerak lamban, malah bisa dikatakan gerak mundur, dalam perkembangan Indonesia disebabkan integrasi dan komitmen kebangsaan terkoyak oleh perlombaan elite politik dalam mengkhianati negaranya. Semua tindakan politik diabsahkan menurut logika pemenuhan kepentingan pribadi, yang menghancurkan pelayanan publik. Institusi demokrasi membiarkan politik berbiaya tinggi, yang merobohkan kewibawaan politik: politik didikte oleh kapital, pemerintahan disesaki orang-orang medioker, korupsi merajalela mendorong perekonomian berbiaya tinggi.

Peluang-peluang yang dimungkinkan demokrasi tak membuat rakyat berdaya, tetapi justru kian teperdaya. Pertumbuhan ekonomi hanya memperkaya elite negeri dengan memarjinalkan rakyat kebanyakan. Elite negeri lebih bangga mendapat ''isapan jempol'' penghargaan asing ketimbang penghargaan dari rakyatnya sendiri.

Ketertiban dan keselamatan warga kerap dikorbankan oleh motif pengalihan isu. Kekerasan difabrikasi sebagai mekanisme defensif kegagalan pemerintah. Ketika elite hanya sibuk menyelamatkan diri, rakyatnya sendiri --terutama buruh migran-- dibiarkan lebih buruk dari hewan yang mudah dibunuh di negeri jiran.

Tekad belajar elite negeri berhenti sebagai pepesan kosong ''studi banding'' sebagai modus penjarahan uang negara. Dunia pendidikan sibuk memancangkan slogan ''taraf internasional'', meski yang sebenarnya hanyalah ''tarif internasional''. Jumlah profesor bersitumbuh dengan jejak karya yang makin sulit dikenali. Akademisi dan cendekiawan bukan berkontribusi memikirkan desain institusional yang dapat memperbaiki mutu kepemimpinan, malah turut merayakan banalitas politik sebagai kaki tangan pemodal.

Ketika kawasan Pasifik menjadi pusat kemajuan baru dan Asian Free Trade di ambang pintu, negeri besar dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia ini justru terus terhinakan kewibawaannya oleh kesempitan dan kekecilan mentalitas elite pemimpinnya.

Situasi centang-perenang seperti itulah yang melahirkan kecemasan warga dalam menyongsong masa depan. Terlalu banyak penjarah dan pengkhianat dan terlalu sedikit penanam dan perawat membuat negeri kehilangan pelita penuntun.

Banyak orang menyia-nyiakan waktu, seolah waktu itu berlimpah, berputar melingkar. Sesungguhnya waktu itu ibarat aliran sungai. ''Tak ada seorang pun yang bisa melintasi sungai yang sama dua kali,'' ujar Heraclitus. Sungai terus mengalir, manusia terus berubah.

Waktu adalah milik kita yang paling berharga. Dalam kaidah ekonomi, semakin jarang sesuatu dan semakin sering digunakan, maka akan semakin bernilai. Emas, misalnya, cadangannya terbatas, tetapi banyak digunakan, maka nilainya sangat tinggi. Kebanyakan hal yang bisa dimiliki bisa diisi ulang. Cadangan berlian dan emas bisa ditemukan, uang bisa dicetak kembali, tetapi tidak dengan waktu. Peribahasa ''waktu adalah uang'' tidak sepenuhnya tepat. Waktu, sebagai sumber daya yang paling jarang, jauh lebih berharga daripada uang.

Dalam penggunaan waktu juga berlaku prinsip ''opportunity costs''. Bahwa apa pun yang kita pilih untuk diperbuat berisiko hilangnya kesempatan melakukan hal lain. Dengan uang, kita memiliki pilihan konservatif dengan menyimpannya di bank, tetapi tidak dengan waktu. Kita mengeluarkan waktu setiap saat. Kita ''adalah jam yang setiap saat waktu berkata sendiri'', kata Shakespeare.

Seorang muda bertanya kepada syekh tua yang sedang menanam pohon. ''Untuk apa menanam sesuatu yang Tuan tak akan menikmati buahnya? Syekh itu pun menukas, ''Apakah yang kamu makan adalah hasil yang kautanam sendiri?''

Waktu bukanlah keabadian, sekadar labirin tanda tanya yang di setiap ujung jeda dan pintunya selalu menyisakan misteri. Tetapi setiap jejak tidaklah sia-sia. Seperti samudra bermula dari tetes air. Setiap darma memberi harapan masa depan. Lukisan masa depan adalah pilihan kita menggoreskan warna pada kanvas masa kini.

Oleh: Yudi Latif
Baca Kelanjutannya

Aplikasi Nokia Perubah Suara Menjadi Tulisan

Suatu ketika, Eko Sakti mengikuti program "International Summer School Computational Logic and Its Application" yang diprakarsai oleh Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD) di Bali. Beragam materi komputasional dalam sekolah singkat itu disampaikan dalam bahasa Inggris. Sekeras apapun upaya pria kelahiran Madiun, 5 Agustus 1986 itu untuk mencatat bahan-bahan pelajaran, hanya sebagian kecil saja yang terangkum dalam bukunya. Eko kerepotan.

Berkaca dari pengalaman itu, Eko terpicu untuk membuat sebuah aplikasi transkriptif yang bisa menyalin pesan lisan menjadi teks tulisan. Dengan begitu, Eko berharap dirinya dan orang-orang yang memiliki keterbatasan kecepatan dalam memindahkan materi berbahasa Inggris dari lisan ke dalam tulisan, tidak akan dibuat bingung dan repot lagi.

''Seandainya ada aplikasi yang bisa mentransfer suara ke dalam bentuk tulisan pasti keren habis nih,'' gumam Eko yang kini berstatus sebagai Dosen Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (PTIIK UB) ini.

Maka lahirlah "Never Write". Dengan aplikasi tersebut Eko memfasilitasi kebutuhan pengguna dalam proses transkriptif tanpa si pengguna harus mengetik. Misalnya untuk membuat transkrip dari rekaman pembicaraan, seperti pada lecture note atau meeting note.

Aplikasi ini juga dikembangkan Eko dengan memanfaatkan evernote, sebuah media penyimpanan data (text, suara, atau image) dalam sistem cloud computing. Menurut alumni Teknik Informatika dari Universitas Trunojoyo ini, layanan evernote membantu penggunanya untuk menyimpan berkas di luar piranti (device) komputer atau gadget mereka. Tujuannya untuk menghemat media penyimpanan (storage).

"Dengan memanfaatkan 'Evernote', aplikasi 'Never Write' ini mempunyai kelebihan lain, yaitu dapat diakses di tempat lain. Jika kita simpan file-nya di mobile phone yang tertinggal di kantor misalnya, maka kita masih bisa mengaksesnya di rumah atau di tempat lain,"kata Eko.Ia menambahkan bahwa aplikasi gubahannya itu tidak mempunyai batasan dalam memasukkan jumlah kata. Sehingga, bisa digunakan sebagai sub-title film yang nantinya bisa diubah dalam Bahasa Indonesia.

Sebagai pembanding, terkait aplikasi berbasis pengenal suara (voice recognition), publik telah terlebih dahulu mengenal "Siri" yang dikembangkan Apple atau S Voice keluaran Samsung. Beda dengan keduanya, Never Write, menurut Eko, memanfaatkan teknologi Microsoft dan dibangun untuk windowsphone 8.

"Selain itu, aplikasi ini memanfaatkan speech sebagai inputan dan mengubah ke text, kemudian disimpan ke evernote. Nah apakah Siri juga menghasilkan text dan disimpan ke evernote? Jadi ini tidak meniru Siri atau S Voice kan? '' jelasnya.

Aplikasi "Never Write" sukses meraih gelar juara bersama 19 aplikasi unik lainnya dalam kompetisi Nokia Lumia Apps Olympiad 2012 yang yang berlangsung pertengahan November lalu. Kompetisi tersebut diikuti oleh 428 pengembang aplikasi dari sekitar 40 kampus yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari semuanya, terpilih 54 finalis dan 20 pemenang, termasuk Eko.

''Menurut penilaian juri, aplikasi yang saya ciptakan bersifat inovatif, belum ada di pasaran dan memiliki fungsi serta kegunaan yang besar," tutur Eko.

Sementara aplikasi ciptaan Eko masih bisa dinikmati oleh masyarakat secara gratis karena masih dalam versi beta. Tujuannya ingin mendapatkan masukan dari pengguna untuk pengembangan selanjutnya. ''Mudah-mudahan akan banyak masukan buat saya sehingga nantinya aplikasi ini bisa lebih disempurnakan lagi,'' pungkasnya.
Baca Kelanjutannya

Tolong like Facebook kami, trims

 
© Copyright Blog Teringan 2012 | Design by Noval | Published by Themes